TRIBUN-TIMUR.COM, TORAJA - Masyarakat Dusun Pangdo, Lembang Palesan, Kecamatan Rembon, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, masih mempertahankan tradisi pembuatan kue tradisional bernama Baje.

Kue berbahan dasar beras ketan dan gula merah ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu sajian dalam berbagai kegiatan adat masyarakat setempat.

Baje biasanya disajikan dalam acara Rambu Solo (upacara adat kematian) maupun Rambu Tuka (upacara adat sukacita), termasuk pesta pernikahan.

Salah seorang pemudi setempat, Sifra Anugra Manglo, mengatakan pembuatan Baje menggunakan bahan sederhana, yakni beras ketan dan gula merah.

Selain itu, kacang juga bisa ditambahkan sesuai selera.

Untuk pembungkusnya, masyarakat biasanya menggunakan kulit jagung atau kertas nasi.

Baca juga: Kue Tradisional di Wajo Kena Dampak BBM Naik, Beli Rp5 Ribu Dapat 3 Biji

KUE TRADISIONAL - Suasana proses pembuatan Baje secara berkelompok oleh sejumlah perempuan dan gadis muda di Dusun Pangdo, Lembang Palesan, Kecamatan Rembon, Tana Toraja, Sulsel, Rabu (4/11/2026). Terlihat adonan dibungkus satu per satu menggunakan kulit jagung yang telah disiapkan. Baje merupakan kue berbahan dasar beras ketan dan gula merah ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu sajian dalam berbagai kegiatan adat masyarakat setempat.
KUE TRADISIONAL - Suasana proses pembuatan Baje secara berkelompok oleh sejumlah perempuan dan gadis muda di Dusun Pangdo, Lembang Palesan, Kecamatan Rembon, Tana Toraja, Sulsel, Rabu (4/11/2026). Terlihat adonan dibungkus satu per satu menggunakan kulit jagung yang telah disiapkan. Baje merupakan kue berbahan dasar beras ketan dan gula merah ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu sajian dalam berbagai kegiatan adat masyarakat setempat. (Tribun-Timur.com/Anastasya Saidong Ridwan)

Sifra menceritakan, proses pembuatan Baje diawali dengan merendam beras ketan selama beberapa jam sebelum dikukus.

Setelah matang, beras ketan kemudian dicampurkan ke dalam wajan besar berisi gula merah yang telah dicairkan.

Campuran tersebut terus diaduk hingga gula merah meresap dan menyatu dengan ketan.

Setelah tercampur merata, adonan Baje kemudian didinginkan sebelum dibungkus menggunakan kulit jagung.

"Hari ini kami membuat Baje sekitar 13 kilogram untuk persiapan kegiatan Rambu Solo," ujar Sifra saat ditemui di rumahnya, Rabu (4/11/2026).

Ia menjelaskan, dalam proses pembuatan tersebut, mereka menggunakan sekitar 13 kilogram beras ketan dan 15 kilogram gula merah.

Dari jumlah bahan tersebut, Baje dapat menghasilkan hingga ribuan bungkus.

Menariknya, pembuatan kue tradisional ini tidak menggunakan tambahan bumbu atau bahan kue lainnya.

Dari pantauan Tribun Timur, proses pembuatan Baje dilakukan secara berkelompok oleh sejumlah perempuan dan gadis muda di Dusun Pangdo.

Mereka berbagi tugas dalam setiap tahapan pembuatan.

Sebagian perempuan terlihat memilah dan membersihkan kulit jagung yang nantinya digunakan sebagai pembungkus.

Sementara perempuan lainnya sibuk mengaduk gula merah di dalam wajan besar hingga mencair dan mengental.

Setelah adonan ketan dan gula merah tercampur sempurna, Baje kemudian dituangkan ke dalam wadah untuk didinginkan.

Selanjutnya, adonan dibungkus satu per satu menggunakan kulit jagung yang telah disiapkan.

Suasana kebersamaan terlihat sepanjang proses pembuatan. 

Tawa dan canda sesekali terdengar di tengah kesibukan mereka menyiapkan ribuan bungkus Baje.

Bagi masyarakat Palesan, pembuatan Baje bukan sekadar menyiapkan makanan untuk kegiatan adat, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.(*)

 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.