WARTAKOTALIVE.COM — Diding memiliki pekerjaan yang tidak biasa, yakni tukang las bawah laut.

Ia menangani berbagai pekerjaan di bawah permukaan air, mulai dari pemasangan dan perawatan hingga perbaikan instalasi.

Salah satu pekerjaan yang pernah ditanganinya adalah memperbaiki pipa bocor di Karawang.

Saat itu, minyak keluar dari pipa akibat kerusakan pada gasket.

Pernah Dibayar Rp 8 Juta per Jam

Diding harus menyelam untuk menangani kerusakan tersebut agar kebocoran bisa diatasi.

“Ya kayak ada kebocoran pipalah dulu yang di Karawang, kalau yang ada minyak-minyak pada keluar itu. Nah itu ya kita harus tanganin itu,” cerita dia kepada Kompas.com, Jumat (23/10/2026).

Di proyek lain, Diding mengerjakan penyambungan pipa.

Ia juga pernah memasang baut pada bagian instalasi yang berada di bawah air.

Baca juga: Cara Daftar Pelatihan Vokasi Kemnaker untuk Korban PHK 2024–2026

Pekerjaan tersebut menuntutnya memastikan komponen yang dipasang atau disambungkan berada pada posisi yang dibutuhkan.

Selain itu, ia pernah mengerjakan penyambungan kabel di kawasan pengeboran Pulau Christmas, Australia.

Pengalaman itu menjadi salah satu pekerjaan dengan bayaran tertinggi yang pernah diterimanya.

“Kalau di luar sih besar ya, kalau di luar ya standarnya emang besar banget. Waktu kayak di Australia besar itu. Waktu itu di Australia saya (dibayar) Rp 8 juta per jam,” ungkap dia.

Pengalaman terbarunya adalah ketika mendapat pekerjaan di Waduk Jatiluhur.

Saat itu, ia diminta mengoperasikan sejumlah katup atau valve untuk mengatur aliran air.

Beragamnya pekerjaan tersebut membuat Diding harus siap menangani kebutuhan yang berbeda-beda.

Baca juga: Pemkot Bekasi Siap Bangun 3 Halte Transjakarta dengan Anggaran Rp 400 Juta, Ini Lokasinya

Panggilan kerja juga bisa datang sewaktu-waktu, terutama ketika perusahaan membutuhkan penanganan darurat, termasuk pada tengah malam.

“Sering, kebanyakan emergency. Misalnya dia ya tengah malam dia telepon kita, kita harus langsung berangkat gitu,” ujarnya.

Peralatan Khusus untuk Bekerja di Bawah Laut

Untuk menjalankan pekerjaannya, Diding harus membawa perlengkapan khusus. Salah satunya helm Kirby, perangkat selam yang memungkinkannya berkomunikasi dengan tim di permukaan.

“Diving kalau yang di sini sih kita paling pakai Kirby ya, kayak helm gitu, cuman kita bisa komunikasi sama yang di atas gitu,” tutur dia.

Selain helm, ia menggunakan baju selam, sirip, dan perlengkapan menyelam lainnya.

Untuk pekerjaan pemotongan material, Diding menggunakan alat yang disebut Broco.

“Itu setang lasnya itu namanya kita Broco. Itu kalau yang buat motong, tapi kalau yang buat pengelasan nyambung kayak alat las biasa, kayak setang las biasa,” jelasnya.

Namun, pekerjaan di bawah air tidak bisa dilakukan sembarangan.

Baca juga: 12.000 Lowongan Pekerjaan Dibuka, Pemprov DKI Jakarta Pastikan Bursa Kerja Terbuka untuk Semua

Profesi tersebut membutuhkan perencanaan matang, termasuk memperhitungkan batas waktu bekerja pada kedalaman tertentu.

Durasi penyelaman ditentukan berdasarkan kedalaman. Diding pernah bekerja pada kedalaman sekitar 60 hingga 80 meter.

Pada kedalaman 30 meter, ia pernah berada di bawah air selama dua jam. Sementara itu, ketika bekerja pada kedalaman 60–80 meter, waktu penyelamannya tidak lebih dari 25 menit.

Penyelam juga tidak boleh naik terlalu cepat karena perubahan tekanan dapat memicu dekompresi.

“Kalau kita kan turun secepat-cepatnya, nah kalau naik selambat-lambatnya,” ujar Diding.

“Kalau kita naik secepat-cepatnya, di aliran darah itu ada buih-buih udara. Sebutannya dekompresi. Itu yang bakal bikin sakit terus enggak bakal bisa tidur itu,” lanjut dia.

Kondisi Fisik dan Arus Jadi Tantangan

Selain memperhitungkan waktu dan kedalaman, kondisi fisik serta mental penyelam juga menjadi perhatian.

Diding mengatakan, ada tes fisik dan mental untuk mengurangi risiko kesalahan saat bekerja.

“Iya, ada tes fisik, ada tes-tes mental juga. Biar enggak ada kesalahan di waktu pengerjaan gitu,” kata dia.

Di luar persiapan tersebut, kondisi alam di bawah air juga menjadi tantangan tersendiri. Salah satunya adalah arus yang harus dihadapi ketika penyelam turun menuju titik pekerjaan.

“Paling tantangannya arus aja ya, kekuatan arus aja. Karena kita turunnya pasti lawan arus,” kata dia.

Bukan Sekadar Menyelam, Diding Harus Berpacu dengan Waktu Saat Mengelas di Bawah Laut


Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.