TRIBUNNEWS.COM - Dalam upacara pernikahan, pengantin wanita biasanya berdiri di sebelah kiri, sedangkan pengantin pria berada di sebelah kanan. 

Kebiasaan ini sering dianggap sebagai bagian dari tradisi pernikahan biasa. 

Namun, di balik posisi tersebut, terdapat kisah sejarah yang berkaitan dengan penculikan pengantin dan penggunaan pedang.

Pada masa lalu, seorang pria yang ingin membawa perempuan dari keluarganya mungkin harus menghadapi perlawanan dari keluarga perempuan tersebut atau pria lain yang juga ingin menikahinya.

Praktik ini dikenal sebagai marriage by capture, yaitu pernikahan melalui penculikan atau pengambilan paksa calon pengantin. 

Praktik tersebut telah muncul dalam berbagai catatan sejarah selama ribuan tahun. 

Kisah penculikan Helen dari Troya oleh Paris dalam mitologi Yunani menjadi salah satu contoh yang dikenal luas.

Pengantin pria perlu membebaskan tangan kanannya

Reader’s Digest menjelaskan bahwa kebiasaan pengantin wanita berdiri di sebelah kiri berkaitan dengan kebutuhan pengantin pria untuk menggunakan pedang.

Pada masa ketika pernikahan melalui penculikan masih terjadi, seorang pria perlu bersiap menghadapi kemungkinan perlawanan. 

Baca juga: Kenapa Wasabi Terasa Pedas hingga ke Hidung? Ini Penjelasannya

Karena sebagian besar pria menggunakan tangan kanan, posisi pengantin wanita di sebelah kiri memungkinkan pengantin pria menjaga tangan kanannya tetap bebas untuk menarik pedang.

Dengan begitu, ia dapat memegang calon pengantinnya sekaligus menggunakan tangan dominannya untuk menghadapi orang-orang yang berusaha menghentikannya.

Meski terdengar tidak biasa, kisah ini menunjukkan bagaimana kebiasaan yang terlihat sederhana dapat dikaitkan dengan kondisi sosial pada masa lalu.

Asal-usul istilah best man

Tradisi penculikan pengantin juga disebut berkaitan dengan asal-usul peran best man dalam pernikahan.

Pada masa lalu, pria yang hendak membawa calon istrinya dari rumah keluarga perempuan mungkin membutuhkan bantuan untuk menghadapi perlawanan. 

Ia pun membawa sejumlah orang untuk membantunya. Kelompok ini menjadi salah satu gambaran awal yang dikaitkan dengan tradisi pendamping pengantin pria atau groomsmen.

Di antara para pendamping tersebut, best man disebut sebagai orang yang paling terampil menggunakan pedang. 

Perannya dahulu bukan sekadar berdiri di samping pengantin pria, melainkan juga membantu menghadapi ancaman selama proses membawa calon pengantin.

Sementara itu, pendamping pengantin wanita atau bridesmaids juga dikaitkan dengan upaya melindungi pengantin, meskipun dari sumber bahaya yang berbeda.

Tradisi yang berubah menjadi bagian dari upacara

Saat ini, makna peran pendamping pengantin telah berubah. Best man, groomsmen, dan bridesmaids umumnya dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada teman dekat atau anggota keluarga. 

Mereka mendampingi pasangan dalam upacara pernikahan, bukan untuk menghadapi perlawanan menggunakan senjata.

Begitu pula dengan posisi pengantin wanita dan pria. 

Banyak pasangan masih mengikuti kebiasaan pengantin wanita berdiri di sebelah kiri dan pengantin pria di sebelah kanan tanpa mengetahui kisah yang dikaitkan dengan tradisi tersebut.

Namun, penjelasan sejarah ini perlu dipahami sebagai salah satu asal-usul yang disebut dalam sumber, bukan bukti bahwa semua pernikahan di masa lalu mengikuti pola yang sama.

Pada akhirnya, posisi pengantin dan keberadaan pendamping pernikahan memperlihatkan bagaimana tradisi dapat bertahan meskipun alasan awal yang dikaitkan dengannya sudah tidak lagi relevan dalam kehidupan modern.

(Tribunnews.com/Widya)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.