TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia masih menghadapi persoalan susut dan sisa pangan (food loss and waste/FLW) yang tinggi.
Perwakilan Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) atau Food and Agriculture Organization (FAO) untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menyebut Indonesia membuang 115–184 kilogram makanan per kapita setiap tahun.
Hal itu disampaikan Rajendra dalam Mata Lokal Fest 2026 yang digelar Tribun Network di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta Pusat, Rabu (7/10/2026).
"Indonesia membuang antara 115 kg hingga 184 kg makanan per kapita setiap tahunnya," ungkapnya.
Angka tersebut merujuk kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) tentang food loss and waste di Indonesia pada 2000–2019.
Kajian itu memperkirakan timbulan susut dan sisa pangan mencapai 23–48 juta ton per tahun atau setara 115–184 kilogram per kapita per tahun.
Angka tersebut mencakup pangan yang hilang atau terbuang sepanjang rantai pasok, mulai dari produksi hingga konsumsi. Dengan demikian, persoalan pemborosan pangan tidak hanya terjadi pada tingkat konsumen.
Bappenas mencatat timbulan terbesar terjadi pada tahap konsumsi, antara lain dipengaruhi kelebihan porsi dan perilaku konsumen.
Baca juga: Badan Pangan dan Pertanian PBB Sebut Angka Kelaparan di Indonesia Turun Signifikan di Tingkat Global
Rajendra mengatakan pengurangan pemborosan pangan dapat dimulai dari diri sendiri, antara lain dengan tidak memesan makanan secara berlebihan.
Menurut dia, kebiasaan membuang makanan masih mudah ditemui di pusat perbelanjaan dan pujasera.
"Mari kita ingat orang-orang kelaparan yang tinggal di pulau-pulau sana, dan mari kita buat diri kita lebih berhati-hati dan sadar," ujar Rajendra.
Ia menegaskan persoalan pangan tidak boleh dianggap remeh. Menurutnya, berbagai bukti dan praktik baik telah tersedia untuk mendorong perubahan jika dilakukan bersama.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.