Jakarta -
Pimpinan Uni Eropa (UE) Antonio Costa menyambut baik kesepakatan keamanan antara Amerika Serikat (AS), Greenland, dan Denmark. Kesepakatan tersebut ditandatangani di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB.
Dilansir AFP, Rabu (23/9/2026), Costa menyebut kesepakatan itu sebagai "langkah positif bagi kerja sama transatlantik dan keamanan Arktik."
"UE siap untuk terus bekerja sama erat dengan Greenland, Denmark, dan mitra-mitra transatlantik kami demi Arktik yang damai, aman, dan sejahtera," tulis Costa di platform X.
Costa mengatakan kesepakatan tersebut "didasarkan pada penghormatan terhadap kedaulatan, integritas wilayah, dan hak rakyat Greenland untuk menentukan nasib sendiri."
Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump menandatangani kesepakatan keamanan dengan para pemimpin Greenland dan Denmark. Kesepakatan itu diteken dalam sebuah upacara yang berlangsung di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB.
"Ini akan menjadi hubungan jangka panjang yang luar biasa," ujar Trump dalam acara tersebut di New York dilansir AFP, Selasa (22/9/2026).
Trump sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan ini akan memberikan Amerika "kendali permanen" atas keamanan Greenland, sebuah wilayah otonom Denmark di Arktik yang telah lama ia incar.
"Bapak Presiden, Anda telah menyampaikannya dengan sangat jelas. Anda tidak ingin pihak lawan datang terlalu dekat," kata Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menjelang penandatanganan tersebut.
"Saya sangat sependapat, dan dengan kesepakatan ini, hal itu tidak akan terjadi," tambahnya, seraya menegaskan bahwa pihak lawan tidak akan diizinkan untuk memperoleh kendali atau pengaruh signifikan di wilayah tersebut.
Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen menambahkan bahwa Greenland memiliki arti penting bagi keamanan Amerika Utara maupun keamanan transatlantik.
"Kesepakatan ini mencerminkan bahwa kami memahami tanggung jawab kami dan bertindak sebagaimana mestinya," tambahnya.
Sejak kembali menjabat sebagai presiden pada Januari 2025, Trump berulang kali menegaskan bahwa Amerika Serikat perlu menguasai Greenland demi alasan strategis. Hal ini telah membuat khawatir Denmark-sekutu NATO-serta memicu penolakan keras dari aliansi tersebut.