TRIBUNNEWS.COM - Mana yang lebih berbahaya bagi kesehatan jantung, gula atau lemak?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam podcast Tribun Health yang digelar di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.

Dalam wawancara tersebut, dr. William Kristanto, ahli jantung yang berpraktik di Gleneagles Hospital Singapura, menjelaskan bahwa dampak gula dan lemak terhadap tubuh dapat berbeda pada setiap orang.

Menurutnya, kondisi metabolisme dan faktor risiko yang dimiliki seseorang perlu menjadi perhatian dalam menilai dampaknya terhadap kesehatan jantung.

William Kristanto menjelaskan gula dapat menjadi masalah kesehatan ketika tubuh tidak mampu memprosesnya dengan baik.

Ia menyebut bahwa kondisi tersebut dapat berdampak pada berbagai bagian tubuh, mulai dari mata, saraf, pembuluh darah, hingga jantung dan otak.

“Yang lebih berbahaya, Gula. Karena gula bikin proses destruksi di semua badan, di mata, di saraf, di arteri, di jantung, di stroke,” ujar dr. William dalam podcast Tribun Health.

Pernyataan tersebut disampaikan untuk menggambarkan luasnya komplikasi yang dapat berkaitan dengan diabetes dan gangguan metabolisme gula.

Dampak Gula Tergantung Kondisi Setiap Pasien

Meski menyebut gula sebagai hal yang perlu diwaspadai, dr. William menegaskan bahwa dampaknya tetap bergantung pada kondisi masing-masing pasien.

Menurutnya, apabila seseorang mampu memproses gula dengan baik dan tidak mengalami diabetes, perhatian terhadap faktor risiko lain seperti lemak dan kolesterol menjadi penting.

Baca juga: Gula Darah Tinggi Tak Selalu Bergejala, Dokter Ungkap Alasan Pentingnya Medical Check Up

"Jika pasien bisa memproses gulanya dan dia tidak terkena diabetes, maka fokusnya adalah pada lemak. Karena tubuhnya bisa memproses gula dengan baik," ujarnya.

Sebaliknya, ketika tubuh tidak mampu mengelola gula dengan baik hingga menyebabkan diabetes, kondisi tersebut dapat menjadi faktor risiko terhadap berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit jantung.

"Namun, ada orang yang tidak bisa memproses gula dengan baik sehingga dia terkena diabetes. Nah, ini adalah faktor risiko. Jika Anda menderita diabetes, risiko Anda terkena serangan jantung empat kali lebih tinggi dibandingkan orang normal. Diabetes (gula) memiliki tingkat risiko yang sama dengan riwayat serangan jantung. Jadi, gula itu sangat buruk," tegasnya. 

Pola Makan dan Kurang Olahraga Jadi Perhatian

Dalam wawancara tersebut, dr. William turut menyoroti pola makan yang umum dilakukan sebagian masyarakat Indonesia.

Ia mencontohkan kebiasaan mengonsumsi nasi putih yang kemudian disertai minuman manis, seperti teh manis.

Menurutnya, pola konsumsi tersebut perlu diperhatikan, terlebih jika dibarengi dengan kurangnya aktivitas fisik.

Baca juga: Apakah Lemak Berbahaya Bagi Kesehatan Jantung? Ini Hal-hal yang Harus Diperhatikan

"Nah, ini masalahnya, kan orang Indonesia suka makan nasi. Nasi putih, lalu minumnya teh manis. Jadi itu juga menjadi masalah, ditambah lagi kurang olahraga. Ya, itu masalah besar," kata dr. William.

Ia juga menyinggung meningkatnya kasus diabetes di Asia dan bertambahnya komplikasi yang berkaitan dengan penyakit tersebut.

"Dan kita melihat adanya peningkatan kasus diabetes di Asia. Di Asia, semakin banyak orang menderita diabetes dan semakin banyak pula komplikasinya," terangnya.

Diabetes Tidak Terkontrol Bisa Memicu Berbagai Komplikasi

Menurut dr. William, salah satu hal yang membedakan diabetes dengan kadar kolesterol tinggi adalah luasnya komplikasi yang dapat muncul ketika diabetes tidak terkontrol.

Ia menjelaskan, kolesterol tinggi dapat berkaitan dengan risiko seperti stroke dan serangan jantung, sedangkan diabetes yang tidak terkontrol dapat berdampak pada sejumlah organ dan sistem tubuh. 

Komplikasi yang disebutkannya antara lain stroke, gangguan atau gagal ginjal, gangguan saraf, hingga gangguan penglihatan yang dapat menyebabkan kebutaan.

"Coba Anda pikirkan, jika Anda memiliki kolesterol tinggi, kemungkinan terburuknya adalah stroke atau serangan jantung. Benar, kan?,"

"Tetapi jika Anda menderita diabetes yang tidak terkontrol, dampaknya bisa stroke, gagal ginjal, gangguan saraf, kebutaan mata, dan masih banyak lagi. Jadi sebenarnya, menurut pendapat saya, gula itu jauh lebih buruk," jelasnya.

Lebih lanjut, dr. William menekankan bahwa persoalan gula maupun lemak tidak dapat dipisahkan dari kondisi kesehatan setiap individu.

Bagi orang yang mampu memproses gula dengan baik dan tidak mengalami diabetes, pengelolaan faktor risiko seperti lemak dan kolesterol tetap penting.

Sementara bagi mereka yang mengalami gangguan pengelolaan gula atau diabetes, pengendalian gula darah menjadi perhatian utama.

William pun menilai gula dapat memberikan dampak yang lebih luas ketika diabetes terjadi dan tidak terkontrol.

(Tribunnews.com/Latifah)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.