Liputan6.com, Jakarta - Di tengah dinamika ibu kota, fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang mendorong budaya “nongkrong” di lokasi populer seperti SCBD semakin meluas di kalangan anak muda. Gemerlap kehidupan malam, kafe-kafe estetik, serta sorotan media sosial menjadi panggung bagi tekanan sosial yang tak kasat mata, memicu perasaan cemas dan perbandingan diri di era digital.


FOMO sendiri didefinisikan sebagai perasaan cemas atau takut tertinggal dari pengalaman, informasi, atau momen penting yang sedang dinikmati orang lain. Kondisi ini sering kali diperparah oleh unggahan di media sosial yang menampilkan kehidupan seolah sempurna. Paparan terus-menerus terhadap citra ideal ini dapat membentuk ekspektasi yang tidak realistis pada kaum muda mengenai penampilan dan pencapaian hidup mereka.


Perbandingan sosial di media sosial, di mana individu membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih baik, dapat meningkatkan risiko kecemasan, depresi, dan citra tubuh yang buruk. Remaja dan dewasa muda sangat rentan terhadap dampak negatif ini karena media sosial secara langsung memengaruhi pembentukan identitas serta kebutuhan akan rasa memiliki dan penerimaan.



FOMO dan Peran Media Sosial dalam Membentuk Citra Diri


Ilustrasi bermain media sosial/copyright unsplash.com/Jason Goodman
Ilustrasi bermain media sosial/copyright unsplash.com/Jason Goodman

Menurut Przybylski (2013: 1481), fear of missing out (FOMO) adalah suatu kondisi di mana seseorang merasa gelisah setelah melihat atau mengecek media sosial dan menyaksikan aktivitas menyenangkan yang dilakukan teman atau orang lain di luar sana, disertai keinginan besar untuk tetap terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain di internet. Media sosial memainkan peran sentral dalam memperkuat FOMO, terutama melalui penyebaran standar kecantikan yang ideal dan seringkali tidak realistis. “Platform media sosial dibanjiri dengan profil yang ‘dikurasi dengan cermat,’ menampilkan kehidupan yang tampak sempurna, penampilan tanpa cela, dan tubuh ideal,” ujar Acosta. “Paparan konstan terhadap citra-citra individu yang tampak sempurna ini dapat menyebabkan kaum muda mengembangkan ekspektasi yang tidak realistis tentang penampilan dan pencapaian hidup mereka sendiri.”


Perbandingan diri dengan kehidupan orang lain yang telah difilter dan dikurasi di media sosial dapat meningkatkan risiko kecemasan, depresi, dan citra tubuh yang negatif. Remaja dan dewasa muda menghadapi risiko yang lebih tinggi dari perbandingan sosial ini, sebab media sosial secara langsung memengaruhi pembentukan identitas mereka serta kebutuhan akan rasa memiliki dan penerimaan.



Budaya Nongkrong di Ibu Kota: Antara Status dan Tekanan


Ilustrasi kota (unsplash.com/mfrazi)
Ilustrasi kota (unsplash.com/mfrazi)

Ibu kota, dengan segala dinamikanya, sering menjadi pusat tekanan sosial. Lingkungan kota besar menghadirkan tekanan hidup yang lebih tinggi dibandingkan daerah pedesaan atau kota kecil, dengan kepadatan penduduk, persaingan ketat, dan tuntutan untuk mengikuti gaya hidup modern yang berkontribusi pada tingkat stres tinggi. Dalam konteks ini, budaya “nongkrong” di tempat-tempat seperti SCBD menjadi lebih dari sekadar aktivitas santai, melainkan bagian dari gaya hidup yang dianggap sebagai upaya untuk menunjukkan diri dan memperoleh status sosial.


Kafe, sebagai salah satu tempat nongkrong, berfungsi sebagai “tempat ketiga” di luar rumah dan tempat kerja, di mana individu dapat merasa memiliki tanpa kewajiban interaksi sosial yang mendalam. Namun, di balik kenyamanan ini, terdapat tekanan untuk selalu tampil dan mengikuti tren. Penelitian menunjukkan bahwa budaya nongkrong dapat diperkuat oleh platform media sosial. Tekanan untuk memamerkan momen dan harta benda melalui cerita dan unggahan di platform seperti Instagram memperkuat keinginan untuk mendapatkan status. Hal ini kemudian dapat memicu perilaku konsumtif yang tidak sehat, di mana individu membeli barang-barang status demi kepuasan sementara.



Dampak Psikologis dan Strategi Mengelola FOMO


Dampak FOMO terhadap kesehatan mental cukup signifikan. Individu yang mengalaminya cenderung merasa tidak puas dengan diri sendiri, mudah cemas, dan sulit merasa bahagia dengan keadaan saat ini. Perasaan takut tertinggal membuat seseorang terus memeriksa ponsel, khawatir melewatkan informasi terbaru, yang dapat mengganggu konsentrasi, kualitas tidur, dan produktivitas. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko stres kronis dan kelelahan emosional.


Penggunaan media sosial yang intensif berkontribusi pada perasaan kecemasan dan ketidakpuasan, yang sering muncul dari perbandingan sosial. Sebuah studi terhadap remaja Amerika berusia 12-15 tahun menunjukkan bahwa mereka yang menggunakan media sosial lebih dari tiga jam setiap hari menghadapi risiko dua kali lipat mengalami masalah kesehatan mental negatif, termasuk gejala depresi dan kecemasan.


Untuk menjaga kesehatan mental di tengah fenomena FOMO dan tekanan sosial ibu kota, penting untuk menyadari dan mengelola FOMO dengan bijak. Para ahli menyarankan untuk membatasi waktu layar, fokus pada pengalaman otentik, membangun koneksi sosial yang kuat di dunia nyata, mengembangkan self-compassion, serta mencari bantuan profesional jika FOMO atau tekanan sosial menyebabkan kecemasan atau depresi yang signifikan.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.