Brussels (ANTARA) - Harga gas alam Eropa melonjak ke tingkat tertinggi dalam lebih dari tiga tahun pada Rabu (9/9), karena ketegangan baru di Timur Tengah dan kekhawatiran mengenai pasokan gas alam cair (LNG) menambah tekanan pada pasar yang sudah menghadapi tingkat persediaan rendah menjelang musim dingin.


Kontrak berjangka Dutch TTF untuk bulan terdekat, yang menjadi acuan harga gas Eropa, naik menjadi 80,99 euro (1 euro = Rp20.435) per megawatt-jam selama sesi perdagangan, menembus level 80 euro untuk pertama kalinya sejak awal 2023. Harga kemudian turun ke sekitar 79 euro per megawatt-jam.


Kenaikan harga tersebut terjadi di tengah gangguan pasokan LNG dari Timur Tengah dan kekhawatiran baru terkait infrastruktur gas Rusia, yang memperburuk prospek pasokan.


Menurut Gas Infrastructure Europe, yang memantau tingkat penyimpanan gas di seluruh kawasan tersebut, fasilitas penyimpanan gas Uni Eropa terisi 67,1 persen per 8 September, jauh di bawah tingkat normal untuk periode ini.


Euronews melaporkan bahwa konflik Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga gas Eropa akibat meningkatnya kekhawatiran mengenai pasokan LNG melalui Selat Hormuz, sementara kenaikan biaya energi menambah tekanan inflasi di zona euro.






Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) pada Rabu mengatakan bahwa krisis pasokan baru-baru ini mengungkap kerentanan di pasar gas global.


IEA memperingatkan bahwa persaingan untuk mendapatkan pasokan LNG yang terbatas saat pasar mengalami tekanan berat dapat memicu gejolak harga yang ekstrem dan berdampak signifikan terhadap perekonomian.