TRIBUNSUMSEL.COM -- Tanggung jawab profesi mendorong seorang jurnalis untuk tetap menjalankan penugasan di lapangan meskipun kondisi fisiknya sedang tidak prima.
Sikap tersebut ditunjukkan oleh Ari Basuki, jurnalis media Merdeka.com, yang memilih tetap berangkat meliput perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.
Keputusannya untuk bertugas di wilayah rawan bencana tersebut kini diiringi harapan dari pihak keluarga yang menantikan kepastian kondisinya.
Ari Basuki merupakan seorang jurnalis senior yang memiliki riwayat panjang di dunia jurnalistik.
Sebelum berdedikasi untuk Merdeka.com, pria asal Bogor ini pernah tercatat berkarier sebagai jurnalis di Tempo.
Dalam kehidupan pribadinya, Ari tinggal bersama sang istri di kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat, dan kerap memanfaatkan masa liburnya untuk berkunjung ke rumah orang tuanya di Bogor.
Ari adalah ayah dari dua orang anak laki-laki.
Anak sulungnya kini telah bekerja di Sidoarjo, Jawa Timur, sedangkan anak bungsunya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Sebelum bertolak menuju perairan Selat Sunda pada Senin (7/9/2026), Ari sempat mengeluhkan kondisi kesehatannya yang sedang tidak fit.
Meski merasa tidak enak badan, Ari tetap memilih menjalankan tugas peliputannya setelah terlebih dahulu meminta izin kepada sang istri.
"Sudah izin (keluarga), cuma dalam keadaan sakit, enggak enak badan," kata Lintang (47) kakak Ari saat ditemui di Banten, dikutip dalam Kompas.com, Rabu (9/9/2026).
Rombongan jurnalis berangkat dari pesisir Pandeglang menumpangi kapal cepat bernama Arupadhatu 1.
Sebelum kapal benar-benar lepas landas menuju kawasan Gunung Anak Krakatau, Ari masih sempat menyapa dan menanyakan kabar anak bungsunya melalui pesan singkat.
"Terakhir ke anaknya hari Senin pukul 13.43 WIB. Itu terakhir menanyakan ke anak, setelah itu tidak ada (kabar) sampai sekarang," ujar Lintang.
"Pamit mau liputan ke Krakatau, terakhir (komunikasi) ke anaknya jam 13.43, Senin (7/9), itu terakhir, nanyain ke anaknya, setelah itu enggak ada (kabar)," tambahnya.
Setelah komunikasi pada siang hari tersebut, keberadaan Ari beserta rombongan tidak lagi dapat dihubungi.
Kapal cepat yang mereka tumpangi membawa total delapan orang, terdiri dari lima jurnalis yaitu Ari Basuki (Merdeka.com), M. Bagus Khoirunnas (Antara), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu), dan Donal (jurnalis lepas) serta tiga awak kapal dan pemandu, yakni Warta (nakhoda), Surakman (ABK), dan Heriyanto (pemandu).
Memasuki hari-hari pencarian, keluarga besar Ari terus memantau perkembangan operasi penyelamatan dari tim SAR gabungan yang melibatkan personel Basarnas Banten, Lampung, TNI-Polri, hingga nelayan setempat.
Pencarian di sekitar perairan Kabupaten Pandeglang tersebut diperluas dengan mengerahkan empat unit pencarian dan penyelamatan (SRU) serta empat kapal SAR.
Di tengah ketidakpastian informasi mengenai kondisi kapal di laut, pihak keluarga menyatukan doa dan berharap agar tim penyelamat dapat segera menemukan titik terang.
"Ya, semoga begitu. Semoga dalam keadaan selamat," kata Lintang.
Tim SAR gabungan telah menyisir perairan Selat Sunda hingga kawasan Pulau Krakatau dan Pulau Panjang pada Selasa. Namun, hingga pencarian hari pertama dihentikan sementara, kapal dan para penumpangnya belum ditemukan.
"Pada pukul 18.15 tadi tim kami sudah balik dari lokasi dan melakukan pencarian sampai dengan Pulau Krakata dan Pulau Panjang dengan hasil sampai saat ini masih nihil," kata Kepala Basarnas Banten Al Amrad.
Pencarian dijadwalkan kembali dilanjutkan pada Rabu (9/9/2026). Tim SAR berencana memperluas wilayah pencarian setelah mempelajari rute dari Carita menuju Gunung Anak Krakatau.
"Untuk perencanaan besok, kita mungkin memperluas area pencarian, karena hari ini kita mempelajari rute dari Carita sampai dengan Anak Gunung Krakatau," ujar Amrad.
Operasi pencarian melibatkan enam personel Tim Rescue Unit Siaga SAR Pandeglang, Polairud Pandeglang, serta pemilik kapal.
Sejumlah peralatan juga digunakan, antara lain RIB 02 Banten, perlengkapan SAR air, peralatan medis, komunikasi, dan peralatan pendukung lainnya.
Saat pencarian dilakukan, kondisi cuaca di kawasan Selat Sunda dilaporkan cerah berawan.
Angin bertiup dari selatan menuju utara dengan kecepatan sekitar 16,7 knot, sedangkan tinggi gelombang berkisar 0,4 hingga 1 meter.
Kabiro Antara Banten Bayu juga membenarkan bahwa Bagus dan rombongannya hilang kontak. "Iya benar hilang kontak," katanya.
Hingga pencarian hari pertama berakhir, tim SAR masih belum menemukan speedboat maupun delapan orang yang berada di dalamnya.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.