Laporan Wartawan TribunSolo, Erlangga Bima

TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI – Permukaan air Waduk Gajah Mungkur (WGM) di Wonogiri Jawa Tengah mulai surut saat musim kemarau.

Kondisi ini membuat puluhan makam kuno kembali terlihat di dasar waduk, termasuk di wilayah Kelurahan/Kecamatan Wuryantoro.

Bukan hanya tanah kering yang muncul dari balik genangan.

Sejumlah batu nisan dan kijing makam perlahan terlihat, membuka kembali jejak kehidupan masyarakat yang telah puluhan tahun tenggelam di kawasan tersebut.

Berdasarkan pantauan TribunSolo di lokasi pada Rabu (9/9/2026), batu nisan makam tampak berserakan di tepian genangan WGM.

Sebagian batu nisan masih terlihat utuh.

Namun, sebagian lainnya tinggal puing-puing yang terkikis setelah bertahun-tahun terendam air.

Yang menarik perhatian, pada sejumlah batu nisan masih terlihat samar-samar tulisan nama pemilik makam.

Tulisan tersebut menjadi salah satu jejak kehidupan masyarakat yang pernah mendiami kawasan itu sebelum wilayahnya berubah menjadi genangan Waduk Gajah Mungkur.

MAKAM KUNO - Potret munculnya makam kuno yang tenggelam oleh
MAKAM KUNO - Potret munculnya makam kuno yang tenggelam oleh Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Rabu (9/9/2026). Saat kemarau dan air menyusut, bekas peradaban itu terlihat.

Tahun pada Batu Nisan Masih Terlihat

Puluhan kijing tidak lagi tersusun seperti makam pada umumnya.

Sebagian tergeletak di tanah, beberapa pecah, sementara makam lainnya masih berada di bagian yang tergenang air.

Pada sejumlah kijing juga masih terlihat tulisan tahun, meski sudah samar akibat usia dan terkikis air selama puluhan tahun.

Di antaranya tercatat tahun 1957 hingga 1977.

Artinya, makam-makam tersebut telah ada jauh sebelum kawasan itu berubah menjadi bagian dari Waduk Gajah Mungkur.

Makam Kuno Muncul Setiap Musim Kemarau

Camat Wuryantoro Soemardjono Fadjari mengatakan kemunculan makam kuno di dasar WGM merupakan fenomena yang rutin terjadi.

Makam mulai terlihat ketika permukaan air waduk menyusut pada musim kemarau.

"Setiap kemarau biasanya makam-makam itu mulai terlihat. Tapi baru sebagian, karena masih ada air," ujar Soemardjono.

Menurutnya, tahun ini belum seluruh makam muncul karena permukaan air WGM masih relatif tinggi.

Hujan yang terjadi pada musim penghujan sebelumnya membuat debit air waduk cukup banyak.

"Penghujan kemarin kan membuat debit waduk cukup banyak. Jadi saat ini masih ada airnya, belum semuanya," katanya.

Semakin surut permukaan waduk, kata dia, semakin banyak pula makam yang kemungkinan akan terlihat.

Biasanya, makam-makam tersebut mulai bermunculan sekitar Agustus.

Namun, tahun ini penyusutan air berlangsung lebih lambat.

"Biasanya Agustus sudah mulai kelihatan. Tahun ini surutnya agak lambat, sehingga belum semuanya muncul," pungkasnya.

Baca juga: 5 Rekomendasi Wisata di Dekat Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Cocok untuk Liburan Sekolah

Jejak Permukiman yang Tenggelam

Makam-makam tersebut merupakan peninggalan masyarakat yang telah tinggal di kawasan itu sebelum pembangunan Waduk Gajah Mungkur.

Ketika proyek pembangunan waduk berlangsung, sejumlah permukiman warga di wilayah terdampak harus ditinggalkan.

Warga kemudian mengikuti program bedol desa maupun transmigrasi.

Kawasan permukiman yang ditinggalkan selanjutnya menjadi bagian dari area genangan WGM.

Seiring berjalannya waktu, air menenggelamkan rumah, makam, jalan, hingga berbagai struktur peninggalan kehidupan masyarakat.

Namun, setiap musim kemarau, ketika permukaan air waduk menyusut, sebagian jejak tersebut kembali muncul ke permukaan.

Lahan Bekas Genangan Dimanfaatkan untuk Bercocok Tanam

Turunnya genangan air waduk membuat lahan semakin terbuka. Kondisi tersebut dimanfaatkan warga sekitar untuk bercocok tanam.

Warga memanfaatkan lahan bekas genangan dengan menanami kacang hingga padi.

Salah satunya dilakukan Karni, warga yang tinggal tak jauh dari waduk.

"Ini saya cuma membantu orang, ikut orang. Menanamnya kacang. Ada yang menanam padi juga," jelasnya.

Selain bercocok tanam, sejumlah warga juga memanfaatkan lahan bekas genangan untuk mencari rumput pakan ternak.

Lahan tersebut ditumbuhi rumput yang cukup tebal sehingga menjadi sumber pakan bagi ternak warga sekitar.

(*)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.