BANGKAPOS.COM, BANGKA – Suara Jabrik kembali menggema di atas gantangan Bhay Park Stadium Arena Polda Kepulauan Bangka Belitung, Minggu (6/9/2026).

Murai Batu milik Viky seorang pria asal Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, itu tampil sebagai juara pertama kelas Murai Batu dalam Festival dan Lomba Burung Berkicau Mas Pur Cup 1 tahun 2026.

Di balik kemenangan tersebut, tersimpan cerita tentang hobi yang membutuhkan biaya perawatan hingga jutaan rupiah setiap bulan, sekaligus telah menghasilkan puluhan juta rupiah dari berbagai kejuaraan.

Puluhan sangkar bergantung di atas gantangan, sementara suara burung dari dalamnya saling bersahutan tanpa jeda.

Kicauan yang terdengar nyaring membuat suasana arena semakin riuh, ketika masing-masing burung berusaha menunjukkan kemampuan di hadapan para juri.

Dari bawah gantangan, mata para juri terus mengikuti burung yang sedang dinilai, sesekali tangan mereka bergerak menuliskan catatan pada papan tulis kecil.

Di sisi arena, penonton ikut terbawa suasana, beberapa di antaranya bahkan menirukan kicauan burung yang terdengar dari atas gantangan.

Di tengah persaingan suara yang memenuhi arena, Jabrik ikut menunjukkan kicauannya dari sangkar yang bergantung di atas gantangan nomor 10.

Suaranya berpadu dengan kicauan burung lain, membuat perhatian para juri terus tertuju ke deretan sangkar yang sedang dinilai.

Viky yang berada di sekitar arena hanya bisa menunggu hasil penilaian setelah membawa Jabrik menempuh perjalanan laut dari Tanjung Pandan menuju Kota Pangkalpinang.

“Alhamdulillah saya mendapatkan juara pertama dalam Lomba Burung Berkicau Mas Pur Cup 1,” ungkap dia kepada Bangkapos.com.

Perjalanan menuju arena bukan perkara mudah bagi Viky dan Jabrik. Selama berada di kapal, kondisi burung terus diperhatikan karena perjalanan panjang selama hampir 14 jam dapat membuat Jabrik stres dan kehilangan kondisi terbaiknya. Pakan dan minuman diperiksa, sementara kondisi tubuhnya dipantau agar tetap prima sampai tiba waktunya bertanding.

Perawatan Jabrik bahkan dilakukan dengan memperhatikan perubahan kondisi tubuhnya selama perjalanan. Ketika burung mulai panas, Viky segera melakukan pendinginan dengan menyemprotkan air agar kondisinya kembali nyaman. Baginya, perhatian kecil selama perjalanan dapat menentukan kesiapan burung ketika sudah berada di atas gantangan.

“Kita harus selalu sering memperhatikan burung apakah pakan dan minumnya masih utuh, kalau burung panas harus segera cepat kita dinginkan,” ujar Viky.

Untuk menjaga performanya, Jabrik tidak diberi pakan khusus atau formula tertentu. Menu hariannya berupa kroto dan jangkrik, sebagaimana pakan Murai Batu pada umumnya. Viky mengatakan dirinya tidak menggunakan tambahan seperti jamu maupun telur untuk menjaga performa Jabrik.

Di balik suara nyaring yang terdengar dari gantangan, ada biaya perawatan yang tidak sedikit. Viky menyebut pengeluaran untuk merawat Jabrik dapat mencapai jutaan rupiah setiap bulan, mulai dari kebutuhan pakan hingga perawatan untuk menjaga kondisi burung. Biaya tersebut menjadi bagian dari pengorbanan yang harus dikeluarkan untuk mempertahankan performa burung yang telah berkali-kali mengikuti perlombaan.

“Untuk biaya perawatan burung memang besar, bisa mencapai jutaan rupiah dalam sebulan. Namanya hobi,” bebernya.

Pengorbanan itu berbanding dengan panjangnya catatan prestasi Jabrik. Viky mengaku sudah tidak mampu menghitung secara pasti jumlah kemenangan burungnya karena telah mencapai puluhan kali dalam berbagai kejuaraan lokal maupun nasional. Bahkan, Jabrik disebut telah menghasilkan puluhan juta rupiah selama mengikuti perlombaan.

“Kejuaraan keberapa saya menang sudah tidak bisa dihitung lagi, sudah lebih puluhan kali dalam ajang kejuaraan lokal maupun nasional, burung Jabrik ini sudah menghasilkan puluhan juta selama ikut dilombakan,” tuturnya.

Di Mas Pur Cup 1 2026, perjalanan Jabrik kembali berujung pada podium tertinggi. Setelah suara-suara burung memenuhi arena dan para juri menyelesaikan penilaian, Jabrik dinyatakan sebagai juara pertama kelas Murai Batu. Sunau dari Pangkalpinang berada di posisi kedua, sedangkan Upin dari Pangkalpinang menempati posisi ketiga.

Bagi Viky, kemenangan Jabrik bukan hanya tentang piala atau uang yang diperoleh dari perlombaan. Ada perjalanan, perawatan, biaya dan waktu yang harus diberikan sebelum seekor burung mampu tampil di atas gantangan. Semua itu menjadi bagian dari hobi yang membuatnya terus datang dari Belitung mengikuti berbagai kejuaraan.

“Memang dengan adanya kejuaraan seperti ini sangat bermanfaat, khususnya bagi para pemain kicau mania, sehingga kami bisa menyalurkan hobi,” pungkas Viky. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.