TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Kemeja hijau kebiruan baru saja dikenakannya.

Dua menit sebelum jarum waktu di ponselnya menunjukkan pukul 10.00 Wita, Ilham Lakadjo (26) sudah bersiap di atas motor.

Honda Genio yang sejak semalam terparkir di teras rumah dinyalakannya.

Mesin motor itu dibiarkan menyala sekitar 30 detik sebelum ia berangkat.

Seketika, sekitar rumahnya dipenuhi bau asap.

Namun, pemandangan itu bukan sesuatu yang asing bagi Ilham.

Setiap hari, motor menjadi bagian dari rutinitasnya.

Pagi itu, Sabtu (5/8/2026) Ilham belum langsung berangkat mencari pesanan sebagai pengemudi GrabFood.

Baca juga: Pemadaman Listrik di Kota Gorontalo Sabtu 5 September 2026 hingga Pukul 4 Sore, Cek Lokasinya

Anak laki-lakinya yang berusia lima tahun baru selesai dimandikan dan didandani.

Ia masih harus memastikan pengasuh anaknya tiba sebelum melaju menuju pusat Kota Gorontalo.

Kediaman Ilham berada di Kelurahan Leato, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, sekitar 7,1 kilometer dari pusat kota.

Istrinya bekerja lebih pagi sehingga keduanya bergantian menjaga anak.

Setelah pengasuh datang, barulah Ilham bisa memulai pekerjaannya.

“Saya jaga dulu. Istri dia pergi lebih pagi ke tempat kerja. Makanya tunggu dia (bayi) bangun lalu saya pergi kerja. Biasanya jam 10 pagi,” kata Ilham.

Setelah sampai di pusat kota, aktivitas Ilham berlanjut seperti pengemudi food delivery lainnya.

Menunggu pesanan masuk, mengambil makanan dari restoran, lalu mengantarkannya ke alamat pelanggan.

Saat sedang diwawancarai, pesanan masuk ke ponselnya.

Restoran tempat mengambil makanan hanya berada di seberang tempatnya mangkal di bahu Jalan Nani Wartabone, kawasan Bundaran Saronde.

“Tunggu, saya mo jemput dulu makanan,” kata Ilham.

Ia segera menyeberang jalan dan menuju kasir.

Pesanan senilai Rp28 ribu itu dibayarnya terlebih dahulu menggunakan uang tunai.

Setelah makanan siap, Ilham kembali melihat ponselnya. Alamat pelanggan berjarak lebih dari dua kilometer dari restoran.

Karena sudah hafal medan, ia hanya sebentar melihat peta di ponsel sebelum menyalakan motor dan berangkat.

Sekitar lima menit kemudian, pesanan tiba di tangan pelanggan.

Ilham menyelesaikan orderan melalui aplikasi, lalu kembali ke tempat mangkalnya.

“Sudah cuman begitu. Saatnya menunggu lagi kalau takuti (orderan masuk),” ucapnya.

Dalam sehari, Ilham bisa mengantarkan hingga 13 pesanan makanan. Rutenya tidak selalu sama, tergantung pesanan yang masuk.

Untuk satu pesanan tertentu, ia bahkan pernah menempuh perjalanan hingga sekitar 28 kilometer pergi-pulang ke wilayah Limboto, Kabupaten Gorontalo.

Jarak dan jumlah perjalanan membuat bahan bakar minyak (BBM) menjadi bagian penting dari pengeluarannya.

Baca juga: Puncak Dumbo Gorontalo Makin Terang, Spot Foto Bertambah

Setiap hari, Ilham menghabiskan sekitar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu untuk membeli 4 liter Pertalite di SPBU.

Pengeluaran itu bisa bertambah ketika ia harus membeli Pertamax karena antrean Pertalite di SPBU, sementara ada pesanan yang harus segera diantar.

Dalam kondisi seperti itu, pengeluaran BBM-nya bisa mencapai sekitar Rp 60 ribu sehari.

Sebagai pengemudi online, motor dan BBM adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari pekerjaannya.

“Karena tak boleh orang kayak kami ini kehabisan bensin (BBM) di jalan. Setiap perjalanan harus diselesaikan segera. Telat customer mo (akan) marah-marah,” katanya.

Honda Genio yang digunakannya pun masih relatif baru. Motor itu baru sekitar dua bulan menjadi kendaraan andalannya setelah motor sebelumnya rusak ketika digunakan bekerja sebagai kurir ekspedisi.

Kini, Ilham lebih rutin merawat motornya. Ia mengganti oli berdasarkan jarak tempuh, bahkan ketika sudah mencapai sekitar 1.000 kilometer.

“Pokoknya kalau so (sudah) seribu km, saya segera ganti oli. Ganti dua-duanya, oli mesin dan oli gardan,” katanya.

Bagi Ilham, motor bukan sekadar alat untuk berpindah. Di atas kendaraan itulah sebagian penghasilannya bergantung, dari rumah, menuju restoran, lalu mengantar makanan ke rumah pelanggan.

Ilham hanya satu dari banyak orang yang setiap hari mengandalkan kendaraan bermotor untuk beraktivitas di Gorontalo.

Berdasarkan data registrasi kendaraan bermotor, jumlah kendaraan di Provinsi Gorontalo mencapai 625.783 unit. Dari jumlah tersebut, 547.601 unit atau sekitar 87,5 persen merupakan sepeda motor.

Angka itu menunjukkan betapa kuatnya posisi sepeda motor dalam mobilitas masyarakat Gorontalo.

Kendaraan roda dua tidak hanya digunakan untuk bepergian. Bagi sebagian orang, motor adalah alat kerja, digunakan pengemudi ojek, kurir, pedagang, hingga pekerja lainnya.

Di Gorontalo, kendaraan bermotor juga hadir dalam bentuk yang lebih khas: bentor.

Moda ini telah melekat dengan kehidupan masyarakat Gorontalo. Bentor merupakan kendaraan hasil modifikasi sepeda motor yang dipadukan dengan bagian penumpang menyerupai becak.

Mayoritas bentor digunakan sebagai angkutan penumpang dalam kota. Kehadirannya bahkan mengubah wajah transportasi perkotaan dan ikut menggeser keberadaan mikrolet.

Dalam perkembangannya, moda ini juga masuk ke layanan berbasis aplikasi seperti Maxim, Gojek, dan Grab.

Namun, Yayan Abdul (46), pengendara bentor yang sehari-hari mangkal di depan Kampus I Universitas Negeri Gorontalo (UNG), memilih kembali mencari penumpang secara manual.

Ia bersama sesama pengemudi membentuk sistem jalur yang menyerupai terminal tidak resmi. Sistem itu tidak mengikat secara kaku, melainkan disepakati bersama para pengemudi.

Menurut Yayan, bentor manual lebih nyaman. Selain bekerja lebih santai, sepeda motornya juga tidak terlalu bekerja keras.

Yayan sebelumnya menggunakan sistem ojek online sejak 2018. Ia termasuk generasi awal pengemudi ojol di Gorontalo. Namun, baru setahun bermitra dengan aplikasi, ia memutuskan mundur.

“Akunnya masih ada. Masih kadang aktif, tapi saya sudah tidak gunakan. Lebih baik begini (manual),” kata Yayan.

Saat ditemui, Yayan duduk di jok penumpang bentornya. Meski diajak berbicara, matanya tak lepas dari orang-orang yang lalu lalang.

Warga yang baru keluar dari toko hingga mahasiswa yang keluar dari “gerbang tikus” kampus, semuanya ia perhatikan. Ia paham betul gerak-gerik orang yang membutuhkan jasanya.

Yayan mengatakan salah satu alasannya meninggalkan ojol adalah kendaraan yang lebih cepat mengalami kerusakan.

Konsumen terkadang membawa barang bawaan sehingga beban kendaraan bertambah. Ada pula penjemputan dengan rute yang jauh, ditambah persaingan antar-pengemudi.

Berdasarkan data Dinas Perhubungan Provinsi Gorontalo, tiga aplikasi ojek online yang aktif beroperasi di Gorontalo adalah Maxim, Grab, dan Gojek.

Jumlah pengendara bentor yang terdaftar pada ketiga aplikasi tersebut mencapai 1.111 unit. Selain itu terdapat 1.275 kendaraan roda dua dan 703 kendaraan roda empat.

“Apalagi saat ini susah bersaing. Sudah banyak ojek online di Kota Gorontalo ini. Jadi saya begini saja,” ucapnya.

Saat ditemui, Yayan baru mengantongi hasil sekitar Rp 40 ribu. Jumlah itu diperolehnya dari dua kali perjalanan mengantar penumpang.

Ia mengaku mulai bekerja sejak pukul 08.00 Wita. Ia sempat pulang untuk tidur siang sekitar pukul 12.00 hingga 14.00 Wita sebelum kembali mangkal.

“Ini jam 3 (15.00 Wita) baru kembali,” ucap Yayan saat diwawancarai menjelang azan Magrib sekitar pukul 17.49 Wita, Sabtu (15/8/2026).

Yayan berencana kembali ke rumah saat Magrib. Namun sebelum pulang, ia tiba-tiba memanggil seorang perempuan yang menggendong anak keluar dari toko.

“Ah ini penumpang. Kebetulan orang kompleks. Sekalian saya akan pulang,” katanya.

Yayan kemudian menghidupkan bentornya dengan mengengkol motor sebanyak dua kali. Setelah mesin menyala, ia segera memutar kepala bentor dan mengajak dua penumpangnya naik.

“Pergi dulu ya,” kata Yayan sambil tersenyum.

Hari itu, Yayan mengaku hanya membeli seliter Pertalite di pinggir jalan seharga Rp13 ribu. (*)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.