TRIBUNNEWS.COM - Gerakan tutup mulut (GTM) atau yang dalam dunia medis disebut feeding difficulty menjadi momok tersendiri bagi orang tua.

Terlebih saat anak memasuki usia enam bulan, di mana masa-masa tersebut dalam fase pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI).

Kebanyakan orang tua beranggapan, anak yang GTM sekadar pilih-pilih makanan.

Padahal, ada proses tumbuh kembang yang melatarbelakangi mengapa anak mengalami GTM.

Dokter Spesialis Anak di Mommies Premiere, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, dr. Sandi Nugraha, Sp.A, Subsp.NPM(K), memberikan solusi tepat kepada orang tua yang anaknya mengalami GTM.

Berikut solusi-solusi yang diberikan dr. Sandi kepada orang tua:

1. Perbedaan Feeding dan Eating

Sandi menyebut, salah satu fondasi utama yang sering terabaikan oleh orang tua adalah membedakan antara proses eating dan feeding.

"Di usia 6 bulan bahkan mungkin sampai usia 2 sampai 3 tahun, kita menyebutnya feeding, bukan eating. Kalau eating itu biasanya proses makan yang hanya melibatkan diri kita sendiri."

"Sedangkan feeding adalah proses makan yang melibatkan interaksi antara anak dengan orang tua ataupun pengasuh," terang dr. Sandi saat hadir di acara Momspiration di Studio 5 Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.

Artinya, lanjut Sandi, makan pada balita bukanlah sekadar aktivitas mekanis memasukkan nutrisi ke dalam mulut, melainkan proses belajar sosial dan sensori.

Baca juga: Anak Tak Mau Makan atau GTM? Bisa Jadi Ini Tanda GERD, Jangan Anggap Sepele

2. Ajak Anak Berpartisipasi Aktif

Banyak kasus GTM yang terjadi karena orang tua menuntut anak untuk duduk manis saat disuapi.

Padahal, kata Sandi, anak harus diberi kesempatan memegang atau mengenali makanannya agar merasakan pengalaman ketika makan.

"Gerakan tutup mulut ini banyak terjadi akibat ketidak-ikut-sertaan seorang anak," ucap Sandi.

"Perkembangan anak usia 6 sampai 8 bulan itu motoriknya dan sosialisasi atau kemandiriannya adalah memasukkan makanan ke mulut. Ketika kita membiasakan 'Kamu diam aja', apakah itu akan berulang terjadi? Pasti akan sampai di suatu saat anak tersebut enggak mau makan karena dia enggak tahu experience-nya," lanjutnya.

Sandi pun memberikan solusi praktis kepada orang tua agar anak bisa langsung merasakan pengalaman ketika makan.

Pertama adalah biarkan anak memegang makanan di usia 6 hingga 8 bulan meskipun berantakan.

Kemudian yang kedua, Sandi mengatakan ketika di usia 8 sampai 12 bulan, perkenalkan finger food untuk melatih motorik halus dan rasa percaya diri anak.

Terakhir, Sandi memperingatkan kepada orang tua agar tidak membiasakan anak makan sambil menonton TV atau gadget.

Karena, menurut Sandi, ketika anak diperlihatkan TV atau gadget dapat memutus interaksi dan kesadaran terhadap rasa serta tekstur makanan.

3. Variasikan Menu

Baca juga: Trik Bikin Variasi Menu MPASI Atasi Anak GTM, Bumbu Rempah Goda Anak Lebih Lahap Makan

Sandi mengatakan kebanyakan orang tua sering kali panik jika anak menolak nasi.

Padahal kebutuhan karbohidrat dapat disubstitusi dengan bahan pangan lokal lainnya.

Anak, menurut Sandi, juga bisa mengalami rasa bosan jika menu yang disajikan monoton.

"Anak itu kan secara komunikasi belum bisa ngomong, ngomongnya dengan GTM. Picky eater itu merupakan suatu tahapan yang wajar sebenarnya, karena anak itu kanvas kosong yang enggak tahu makanan enak kalau tidak kita kenalkan terus-menerus," ungkap Sandi.

Sandi menyebut, menggunakan kentang, ubi cilembu, ubi ungu, atau singkong bisa menjadi variasi untuk mengganti nasi.

Ia pun juga memperingatkan bahwa protein hewani jauh lebih mudah diserap oleh tubuh anak dibanding protein nabati.

"Tidak harus mahal seperti salmon. Ikan lokal seperti lele, nila, mujair, serta telur sangat kaya nutrisi," ungkap Sandi.

Dirinya mengatakan, lemak juga sangat dibutuhkan untuk perkembangan otak anak pada masa tumbuh kembang awal.

4. Lakukan Food Journaling

Jika GTM berlangsung berlarut-larut, dr. Sandi menyarankan agar orang tua menyaring 4 faktor utama.

Pertama adalah faktor medis mendasar. Sandi menyarankan agar memeriksa apakah anak memiliki riwayat prematuritas, penyakit jantung bawaan, kelainan anatomis, infeksi seperti TBC, atau anemia defisiensi zat besi.

"Anemia membuat ikatan hemoglobin-oksigen berkurang sehingga anak menjadi lemas dan tidak nafsu makan," ungkapnya.

Kemudian, orang tua juga perlu mengevaluasi dirinya sendiri apakah MPASI dan ibu yang menyusui sudah tercukupi gizinya.

Lalu sesuaikan juga tekstur makanan dengan tahapan usia. Apakah anak sudah bisa memakan makanan dengan tekstur cincang halus, kasar, hingga makanan keluarga.

Sebagai penutup, Sandi juga menyarankan agar ibu mendapatkan ketenangan dan dukungan penuh dari suami atau keluarga.

Sebab, dukungan-dukungan tersebut sangat mempengaruhi suasana makan anak.

"Menangani anak GTM memerlukan kesabaran, pemahaman tahapan perkembangan, serta kerja sama seluruh anggota keluarga," pungkasnya.

(Tribunnews.com/Whiesa)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.