Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan terus menggelontorkan investasi untuk kecerdasan buatan (AI) dengan harapan meningkatkan produktivitas. Namun, survei terhadap para pimpinan perusahaan justru menunjukkan hasil yang berbeda.
Dikutip dari Futurism, Kamis (27/8/2026), lebih dari 90% pimpinan perusahaan mengatakan AI belum berdampak terhadap jumlah tenaga kerja perusahaan dalam tiga tahun terakhir. Sebanyak 89% juga menyebut teknologi tersebut belum memberikan dampak terhadap produktivitas.
Survei National Bureau of Economic Research (NBER) tersebut melibatkan hampir 6.000 pimpinan perusahaan dari Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan Australia.
Di antara perusahaan yang merasakan manfaat, peningkatan produktivitas rata-rata hanya sekitar 0,29%.
Temuan ini muncul ketika penggunaan AI di perusahaan terus berkembang. Penelitian NBER sebelumnya menunjukkan persentase perusahaan yang menggunakan AI meningkat dari 61% pada awal 2025 menjadi 71% pada akhir 2025 hingga awal 2026.
Meski dampaknya terhadap produktivitas masih terbatas, sejumlah perusahaan tetap melakukan pengurangan tenaga kerja (PHK) dengan alasan efisiensi yang berkaitan dengan AI.
Profesor bisnis University of Pittsburgh, Mark Ma, menilai strategi ini justru dapat menghambat manfaat AI.
Menurutnya, PHK yang dikaitkan dengan AI dapat meningkatkan kekhawatiran karyawan kehilangan pekerjaan. Kondisi tersebut kemudian berpotensi menurunkan kepercayaan mereka terhadap teknologi yang sedang diterapkan perusahaan.
Analisis Ma dan rekan-rekannya terhadap ulasan karyawan di Glassdoor menemukan terdapat hubungan antara sentimen terhadap AI dan produktivitas perusahaan.
Karyawan yang memiliki pandangan negatif terhadap AI berpotensi mengurangi manfaat produktivitas yang diharapkan perusahaan dari teknologi ini.
Ironisnya, survei menunjukkan para eksekutif tetap memperkirakan dampak AI akan lebih besar dalam beberapa tahun mendatang.
Mereka memperkirakan AI dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja sekitar 1,4% dan output 0,8% dalam tiga tahun ke depan. Pada saat yang sama, jumlah tenaga kerja diperkirakan turun sekitar 0,7%.
Temuan tersebut menunjukkan perusahaan masih menaruh harapan besar pada AI, meski dampak nyata yang dirasakan saat ini belum memenuhi ekspektasi terhadap teknologi ini.
Bagi Ma, perusahaan seharusnya tidak menjadikan AI sebagai alasan utama untuk melakukan layoffs. Pengurangan tenaga kerja justru dapat merusak kondisi yang dibutuhkan agar AI benar-benar meningkatkan produktivitas.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.