Hong Kong (ANTARA) - Pelatih Manchester City Enzo Maresca berusaha menikmati setiap proses yang dilakoninya sebagai arsitek baru di klub berjuluk The Cityzens tersebut.
“Saya lebih suka menikmati proses hari demi hari. Penilaian akan selalu ada, bukan hanya besok (pada pertandingan persahabatan melawan Inter Milan),” kata Maresca pada jumpa pers pra pertandingan di Stadion Kai Tak, Hong Kong, Jumat.
“Kami baru bekerja bersama sekira sepuluh hari, dan sedang memperkenalkan konsep-konsep baru. Besok saya berharap hal itu sudah mulai terlihat,” tambahnya.
Maresca memikul tanggung jawab dan ekspektasi yang besar, sebab ia menggantikan pelatih legendaris City asal Spanyol, Pep Guardiola. Sebagai pelatih, pencapaian terbaik Maresca adalah mengantarkan Leicester City promosi ke strata teratas sepak bola Inggris sebagai juara Championship pada 2023/2024.
Hal tersebut sangat kontras dengan Guardiola, yang selama mengarsiteki City telah membawa klub itu menjuarai Liga Inggris sebanyak enam kali, Piala FA tiga kali, dan satu kali menjadi jawara Liga Champions.
Meski mengakui tugasnya sangat berat, Maresca memilih untuk menghormati Guardiola sambil tetap meyakini kemampuan dirinya sendiri.
“Bagi saya, merupakan kehormatan besar datang setelah Pep yang menangani klub selama sepuluh tahun. Tetapi saya tidak percaya pada meniru mentah-mentah (copy-paste),” ujar Maresca.
“Setiap pelatih memiliki karakter dan ide yang berbeda. Tugas saya adalah membawa gagasan baru. Secara keseluruhan, ini merupakan sebuah kehormatan,” tambah pria asal Italia itu.
Piala Dunia 2026 belum lama usai, dan Manchester City menjadi salah satu klub yang mengirimkan banyak pemainnya ke ajang akbar empat tahunan tersebut. Selain turnamen-turnamen reguler seperti Piala Dunia dan Piala Eropa, para pemain sepak bola juga semakin disibukkan dengan berbagai turnamen baru atau modifikasi turnamen dari otoritas-otoritas sepak bola.
Pada sisi ini, Maresca menyadari benar bahwa semakin banyak pertandingan yang dimainkan oleh para pesepak bola, risiko cedera mereka menjadi semakin besar.
“Semakin banyak pertandingan yang dimainkan, semakin besar pula risiko cedera. Sangat sulit mempertahankan level tertinggi jika harus bermain dalam 60-70 pertandingan dalam satu musim tanpa cedera,” ujar Maresca.
“Kami harus beradaptasi dan berusaha meminimalkan cedera,” pungkas mantan pemain Juventus dan Fiorentina itu.