TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pola hidup anak-anak zaman sekarang kian mengkhawatirkan pasalnya bukan bermain di lapangan, anak-anak masa kini justru lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar gadget atau terkurung dengan segudang aktivitas sekolah yang padat.

Kondisi ini memicu lonjakan kasus miopia alias rabun jauh (mata minus) pada anak di Indonesia.

Bahkan kini, ancaman mata minus bukan lagi sekadar gangguan penglihatan biasa, melainkan sudah bergeser menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang serius.

Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, menjelaskan banyak orangtua yang datang ke klinik membawa anak di bawah usia 7 tahun dengan kondisi mata yang sudah minus.

Menurut dr. Julie, salah satu obat alami yang paling ampuh dan gratis untuk mencegah mata minus adalah sinar matahari.

Anak-anak sangat disarankan untuk beraktivitas di luar ruangan minimal dua jam sehari. Bukan tanpa alasan, sebab paparan cahaya matahari terbukti merangsang hormon dopamin pada mata anak.

Baca juga: Dokter Mata Ungkap Kebiasaan Main Gadget yang Bisa Memicu Minus Cepat Bertambah

"Sinar matahari dapat menginduksi dopamin. Dopamin ini kemudian akan disekresikan pada malam hari dan berperan penting dalam menghambat kegagalan pengaturan pertumbuhan bola mata (axial length)," kata dr. Julie di kawasan Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (12/7/2026).

​Sebaliknya, gaya hidup anak masa kini yang pulang sekolah terlampau sore bahkan bisa mencapai jam 16.00 WIB sore ditambah jadwal les yang padat, membuat waktu bermain di luar ruangan berkurang drastis.

Kondisi ini diperparah dengan kebiasaan menunda tidur malam akibat mengerjakan tugas atau bermain gawai.

​"Anak-anak sekarang sering menunda tidur malam, sehingga sekresi dopamin menjadi terhambat. Dampaknya, pemanjangan sumbu bola mata tidak bisa ditahan, dan fungsi inhibisi terhadap pertumbuhan bola mata menjadi berkurang," tambah dr. Julie.

Jika dibiarkan, pemanjangan bola mata ini akan memicu miopia progresif yang berisiko menyebabkan komplikasi fatal di masa depan, seperti makulopati miopia hingga ancaman kebutaan.

Terapi Optik Jika Obat Mata Minus Langka di Indonesia

Jika mata anak terlanjur minus atau masuk fase pre-myopia, intervensi medis harus segera dilakukan.

Selama ini, dunia medis mengandalkan terapi obat tetes mata Atropin dosis rendah untuk menahan laju minus.

Namun, ada kabar kurang sedap. President Director Essilor Luxottica Indonesia, Dailami Aziz, bersama dr. Julie mengakui obat tersebut saat ini belum tersedia secara bebas atau langka di Indonesia.

Banyak rumah sakit yang harus meraciknya sendiri demi memenuhi kebutuhan pasien.

Di tengah kelangkaan obat tersebut, terapi optik muncul sebagai solusi salah satu yaitu lensa kacamata pintar dengan 1.021 lensa mikro.

Baca juga: Risiko Penyakit Mata Meningkat di Umur 40 Tahun, Terutama dengan Riwayat Diabetes dan hipertensi

Dailami Aziz menjelaskan, lensa ini memiliki fungsi ganda yang sangat krusial untuk anak-anak usia 5 hingga 18 tahun.

Selain mengoreksi penglihatan yang buram, lensa ini juga bekerja aktif menyetop pertumbuhan bola mata agar minus anak tidak cepat naik.

"Di dalam lensa Essilor Stellest teknologi HALT (highly aspherical lenslet target) itu digunakan sekitar 1.021 lensa mikro. Fungsinya adalah memberikan sinyal kepada mata agar perpanjangan bola mata atau axial length tidak terjadi secepat itu," jelas Dailami.

Ia pun mengimbau kepada para orangtua di Indonesia untuk tidak cuek dan jangan menunggu sampai minus anak tinggi baru panik mencari pengobatan.

Deteksi dini sangat penting. Jika anak sudah berusia 5 tahun, memiliki orangtua yang bermata minus, serta kurang beraktivitas di luar ruangan, maka anak tersebut sudah masuk kategori berisiko tinggi.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.