TRIBUNPADANG.COM- Pukul 12:00 WIB, matahari Kota Padang seperti berada tepat di atas kepala.

Aspal Jalan Ujung Gurun memantulkan hawa panas yang menyengat, memaksa siapa saja mencari penawar dahaga. 

Di sudut jalan yang sibuk itu, sebuah gerobak sederhana tanpa papan reklame justru menjadi pusat perhatian.

Bukan boba atau kopi kekinian yang dicari orang-orang di sini. 

Melainkan sebuah minuman lokal yang sedang naik daun: Es Sum Sum Pak De Nyuss. 

Berbeda dari es sum sum umumnya, Es Sum Sum Pak De Nyuss memadukan kelembutan bubur tradisional dengan kemewahan float.

Baca juga: Karupuak Leak dan Langkitang Cucuik, Kuliner Incaran Wisatawan di Pantai Padang

Penasaran Rasanya?

TribunPadang.com mendatangi lokasi gerobak di Jl. Ujung Gurun No.64a, Kec. Padang Barat, Kota Padang ini, Sabtu (4/7/2026) siang. 

Di balik gerobak tersebut, ada Pak Budi (41) atau lebih akrab disapa Pak De. 

Tangannya bergerak cekatan menyendok es sum sum yang lembut ke dalam gelas plastik.

Ia pun menambahkan es batu, candil ubi, sagu mutiara, santan, gula aren, beberapa potong roti, lalu menyempurnakannya dengan dua scoop es krim vanilla dan guyuran susu kental manis.

Nah, tambahan toping yang terakhir inilah yang membedakannnya dengan es sum sum kebanyakan. 

Satu porsi Es Sum Sum Pak De Nyuss adalah perpaduan tekstur dan rasa yang kaya:

  • Dasar: Bubur sumsum yang super lembut dan gurih.
  • Tekstur: Sentuhan kenyal dari candil ubi dan sagu mutiara.
  • Saus: Siraman santan kental dan legitnya gula aren cair.
  • Topping: Potongan roti tawar sebagai penyerap rasa.
  • Sentuhan Akhir: Dua scoop besar es krim vanilla bertekstur lembut (float) dan guyuran susu kental manis.

"Yang bikin nagih itu teksturnya lembut. Manisnya pas, terus ada rasa gurih dari sum sumnya. Ditambah float jadi makin segar," ujar Siti (21), salah satu pelanggan setia.

Baca juga: Museum Adityawarman, Destinasi Edukasi Favorit Saat Musim Liburan

Tiba-Tiba Viral

Belakangan, Es Sum Sum Pak De Nyuss ramai diperbincangkan di media sosial. 

Banyak video yang memperlihatkan perpaduan es sum sum tradisional dengan tambahan float yang tidak biasa. 

Kombinasi sederhana itu justru membuat banyak orang penasaran untuk datang langsung mencicipinya. 

Namun, di balik ramainya antrean pelanggan hari ini, tersimpan perjalanan panjang.

Memulai Usaha sebagai Penjual Es krim dan Roti bakar

Pak De tidak memulai usahanya hanya dengan berjualan es sum sum saja.

Ia sempat berjualan es krim hingga pernah mencoba berjualan roti bakar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Barulah tahun 2013, ia memutuskan mencoba menjual es sum sum menggunakan gerobak keliling sederhana. 

Saat itu menu yang ditawarkan masih sangat sederhana. 

Hanya es sum sum dengan topping yang lazim dijumpai. 

"Saya mulai jualan es sum sum tahun 2013. Awalnya masih yang biasa saja, belum ada tambahan apa-apa," ujar Pak De. 

Hari demi hari, pelanggan mulai berdatangan. 

Sebagian besar adalah warga sekitar, pegawai, mahasiswa, hingga orang yang kebetulan melintas.

Muncul Ide Menambahkan Topping float

Selama bertahun-tahun, Pak De mempertahankan resep yang sama. 

Namun pada 2022, ia mencoba sesuatu yang berbeda. 

Dia menambahkan satu topping yang selama ini identik dengan minuman kekinian, yakni float. 

Es krim vanilla diletakkan di atas semangkuk es sum sum yang lembut dengan paduan manis nya gula aren, lembutnya sum sum, dan gurih nya santan, menjadi menu yang sangat menyegarkan.

Video-video pelanggan yang mengunggah pengalaman mereka di media sosial perlahan membuat warung kecil tersebut semakin viral.

Meski tampil sederhana, cita rasa yang berbeda membuat orang rela kembali lagi. 

Dengan harga Rp10.000 per gelas, pelanggan sudah bisa menikmati es sum sum dengan topping float yang kini menjadi menu yang menyegarkan.

Bertahan di Tengah Ketakutan Pandemi

Perjalanan usaha Pak De tidak selalu berjalan mulus. 

Saat pandemi Covid-19 melanda, ia sempat mengalami masa-masa sulit sepanjang berjualan. 

Pembatasan aktivitas masyarakat membuat dagangannya sedikit pembeli karena orang-orang takut keluar rumah. 

Keadaan itu membuat Pak De akhirnya memutuskan berhenti berjualan selama kurang lebih tiga bulan. 

Keputusan tersebut bukan karena menyerah, melainkan karena situasi yang benar-benar tidak memungkinkan.

Meski begitu, Pak De tetap terus berjualan untuk kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. 

Setelah tiga bulan berhenti, Pak De memberanikan diri kembali berjualan di gerobaknya walaupun ada rasa takut akan tertular virus. 

"Saya sempat takut juga waktu itu. Takut tertular Covid, tapi kalau enggak mulai lagi, ya kami juga enggak punya pemasukan," ujarnya.

Hari-hari pertama setelah kembali berjualan memang tidak mudah. 

Namun perlahan, pelanggan mulai berdatangan lagi sedikit demi sedikit usahanya kembali bangkit.

Menjadi Tempat Singgah Berbagai Kalangan

Kini, gerobak Es Sum Sum Pak De Nyuss hampir tidak pernah sepi. 

Pembelinya datang dari berbagai kalangan seperti anak- anak, pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran, hingga keluarga turut mampir mencicipi menu andalannya.

Banyak pelanggan bahkan sudah mengenal Pak De selama bertahun-tahun. 

Salah satunya adalah Ririn (27), pelanggan yang mengaku sudah menikmati Es Sum Sum Pak De sejak masih duduk di bangku kuliah.

"Saya mulai beli waktu masih kuliah. Dulu sering mampir sepulang kampus karena harganya ramah di kantong. Sampai sekarang sudah kerja pun masih sering datang," ujarnya.

Pelanggan lainnya, Siti (21), mengatakan perpaduan rasa menjadi alasan dirinya terus kembali membeli. 

Selain tekstur lembut yang bikin ketagihan, manisnya juga pas dan ada rasa gurih dari sum sumnya.

Kesederhanaan yang Menjadi Daya Tarik

Di tengah menjamurnya minuman kekinian dengan berbagai varian rasa, Es Sum Sum Pak De Nyuss justru membuktikan bahwa kesederhanaan masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Gerobak sederhana di pinggir jalan itu menjadi saksi perjalanan seorang pedagang yang bertahan melewati berbagai tantangan.

Mulai dari berpindah-pindah usaha, menghadapi pandemi, hingga akhirnya dikenal luas berkat inovasi sederhana berupa tambahan float.

Bagi Pak De, viralnya Es Sum Sum Pak De Nyuss di media sosial menjadi berkah yang tak pernah ia duga sebelumnya. 

Ia mengaku sempat heran ketika melihat gerobaknya mulai dipadati pelanggan. 

Bahkan, ia baru menyadari bahwa dagangannya ramai diperbincangkan di media sosial setelah banyak wajah baru berdatangan.

"Saya kaget, pelanggan makin banyak. Yang datang bukan hanya pelanggan lama, tapi juga banyak orang yang baru pertama kali saya lihat," ujarnya.

Meski demikian, hal yang paling membahagiakan bagi Pak De bukan sekadar ramainya pembeli atau viral di media sosial. 

Baginya, melihat pelanggan lama tetap setia kembali, sembari menyambut wajah-wajah baru yang penasaran mencicipi es sum sum buatannya, menjadi kepuasan tersendiri.

Di balik semangkuk es sum sum seharga Rp10.000 itu, tersimpan kisah tentang kerja keras, keberanian untuk bangkit setelah masa sulit, serta keyakinan bahwa usaha yang dijalani dengan sepenuh hati akan selalu menemukan jalannya.(mg/Aprilius Muthya Salwahita)

 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.