Brazzaville (ANTARA) - Jumlah kasus baru Ebola mingguan di Republik Demokratik (RD) Kongo mencapai level tertinggi sejak wabah dimulai, demikian disampaikan Mohamed Yakub Janabi, direktur regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Afrika, pada Jumat (3/7).
Dalam sebuah taklimat media daring, Janabi mengatakan bahwa wabah ini merupakan wabah Ebola Bundibugyo terbesar yang pernah tercatat dan situasinya masih serius, dengan penularan yang terus terjadi di provinsi Ituri dan Kivu Utara di RD Kongo timur.
Pierre Akilimali, seorang pakar WHO di RD Kongo, mengatakan bahwa wabah ini terjadi di area-area yang terdampak kerawanan dan aktivitas kelompok bersenjata, yang mempersulit deteksi kasus dan pelacakan kontak.
Akilimali menambahkan bahwa beberapa area terdampak di Provinsi Ituri merupakan zona pertambangan, di mana tingginya pergerakan orang dari luar daerah meningkatkan risiko penularan virus.
Hingga Rabu (1/7), RD Kongo telah melaporkan 1.460 kasus terkonfirmasi Ebola, termasuk 432 kematian, dengan tingkat kematian kasus sekitar 31 persen, kata Akilimali, seraya menambahkan bahwa kasus telah tercatat di 36 zona kesehatan di tiga provinsi.
Dia juga mengatakan 321 dari seluruh angka kematian tersebut terjadi di masyarakat, mencakup hampir tiga perempat dari total. Ini menunjukkan bahwa banyak pasien gagal mencapai fasilitas kesehatan tepat waktu untuk mendapatkan perawatan.
Benjamin Sensasi, seorang pakar WHO di Uganda, mengatakan bahwa hingga Kamis (2/7), Uganda telah melaporkan 20 kasus terkonfirmasi, termasuk 15 kasus impor. Lima kasus lainnya yang tertular secara lokal semuanya terdeteksi saat menjalani karantina, dan belum teramati adanya penularan di masyarakat.
Uganda dan RD Kongo telah membentuk mekanisme respons lintas perbatasan bersama dan menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU), kata Sensasi. Menurut MoU itu, kedua negara akan berbagi informasi pengawasan serta memperkuat kapasitas skrining dan perawatan di area-area perbatasan, imbuhnya.