TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kabupaten Klaten menyimpan banyak jejak sejarah yang masih bertahan hingga kini.

Salah satunya adalah Plumpung Banyu atau yang juga dikenal dengan sebutan Jaladwara.

Jaladwara kali ini merupakan sebuah bangunan peninggalan masa Hindia Belanda yang hingga kini masih berdiri kokoh di wilayah Jotangan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.

WISATA KLATEN - Plumpung Banyu atau Jaladwara di wilayah Jotangan, Klaten.
WISATA KLATEN - Plumpung Banyu atau Jaladwara di wilayah Jotangan, Klaten. (Instagram/@kabarklaten)

Meski usianya telah mencapai puluhan bahkan lebih dari satu abad, bangunan bersejarah ini masih dimanfaatkan oleh masyarakat. 

Bukan lagi sebagai bagian dari sistem irigasi industri seperti pada masa kolonial, melainkan sebagai jalur alternatif yang menghubungkan sejumlah wilayah di sekitarnya.

Sekilas, Plumpung Banyu tampak seperti jembatan sempit yang membelah area persawahan.

Baca juga: Rumah Angel Lelga Kemalingan, Pelakunya Ternyata ART Sendiri, Topi Branded hingga Vitamin Hilang

Namun, di balik bentuknya yang sederhana, bangunan ini memiliki nilai sejarah yang cukup penting.

Pada masa Hindia Belanda, Plumpung Banyu dibangun sebagai saluran air untuk menunjang operasional pabrik gula.

Air yang mengalir melalui jaladwara tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan kawasan industri serta lahan pertanian dan perkebunan, khususnya perkebunan tebu yang menjadi komoditas utama saat itu.

Saluran air tersebut diketahui memiliki keterkaitan dengan operasional Pabrik Gula Manishardjo Pedan, salah satu pabrik gula yang pernah berjaya pada masa kolonial Belanda.

WISATA KLATEN - Plumpung Banyu atau Jaladwara di wilayah Jotangan, Klaten.
WISATA KLATEN - Plumpung Banyu atau Jaladwara di wilayah Jotangan, Klaten. (Instagram/@kabarklaten)

Keberadaan jaladwara menjadi bagian dari sistem pengairan yang mendukung produktivitas perkebunan tebu dan aktivitas industri gula di wilayah Klaten.

Seiring berjalannya waktu, fungsi bangunan ini mulai berubah.

Meski saluran airnya masih ada, bagian atas bangunan kini dimanfaatkan warga sebagai akses penyeberangan.

Baca juga: Sosok Mufli Budi Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Lulusan D3, S1 Tak Selesai

Keunikan Plumpung Banyu terletak pada ukurannya yang sangat sempit.

Jalur di atas bangunan hanya cukup dilalui kendaraan roda dua maupun sepeda.

Mobil maupun kendaraan berukuran besar tidak dapat melintas karena lebar jalannya sangat terbatas.

Meski demikian, jalur ini tetap menjadi pilihan banyak warga karena dinilai lebih praktis untuk memangkas waktu perjalanan menuju desa-desa di sekitarnya.

WISATA KLATEN - Plumpung Banyu atau Jaladwara di wilayah Jotangan, Klaten. (Google Maps)

Banyak pengguna jalan baru menyadari sempitnya jalur tersebut ketika sudah berada di atas bangunan.

Kondisi itu kerap mengundang rasa penasaran sekaligus decak kagum.

Di satu sisi, Plumpung Banyu menjadi saksi bisu perkembangan industri gula pada masa kolonial.

Di sisi lain, bangunan bersejarah tersebut masih memberi manfaat bagi masyarakat hingga sekarang sebagai jalur alternatif yang unik dan memiliki nilai sejarah tinggi di Kabupaten Klaten.

(Tribunnewsmaker.com/Candra)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.