JAKARTA, TRIBUN - Jakarta kembali diposisikan sebagai panggung. Bukan sekadar kota, tetapi pasar raksasa yang sulit diabaikan. Dengan populasi lebih dari 285 juta jiwa di Indonesia dan lebih dari 10 juta di Jakarta, para pelaku industri global melihat peluang yang terlalu besar untuk dilewatkan. Itu sebabnya, pameran internasional Indonesia International Expo Series (IIES) akan digelar pada 18–20 Juni 2026 di ICE BSD, Tangerang, Banten.

Konferensi pers pembukaannya menghadirkan nama-nama penting. Dato Chong Chong Tik, Chairman ES Event Management Sdn Bhd dan PT Indonesia Mass Event Management. Jacky Tsai, tokoh pengusaha Taiwan di Jakarta. Serta Suryan Chang dari asosiasi industri sepatu Taiwan. Mereka datang dengan satu pesan: Indonesia bukan sekadar pasar, tapi medan ekspansi.

Pameran ini akan mengusung dua sektor utama: tekstil dan alas kaki. Dikemas dalam Indonesia International Textile & Clothing Industry Fair serta Indonesia International Footwear Machinery & Material Industry Fair.

Di balik layar, kolaborasi lintas negara bekerja. Indonesia, Malaysia, China, hingga Taiwan terlibat sebagai organizing partners. Dukungan juga datang dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, hingga berbagai asosiasi industri regional. Angkanya tidak kecil.

Pertumbuhan perdagangan Indonesia menyentuh 15 persen. Ekspor ke China naik 17,9 persen. Impor dari negeri itu juga terus bergerak. Neraca dagang masih mencatat surplus tipis.

“Ini momentum,” kata Chairani Jamila, Direktur PT Solindo Duta Praga. Ia menegaskan, pameran ini tidak sekadar etalase produk. Targetnya jelas: business matching, kolaborasi dagang, hingga penguatan merek.

Namun ada yang berubah. 

Jika sebelumnya pameran mencakup sektor mesin, plastik, hingga pengolahan makanan, tahun ini fokus dipersempit. Tekstil menjadi panggung utama. Faktor ekonomi global membuat sebagian sektor ditunda.

“Tahun ini kita fokus. Tahun depan kita kembangkan lagi,” ujar Dato Chong Chong Tik.

Meski begitu, skala tetap besar. Sebanyak 320 booth telah dipastikan terisi. Pesertanya datang dari berbagai pusat industri Asia: Zhejiang, Fujian, Shandong, Shanghai, Hong Kong, hingga Taiwan dan Malaysia.

Target pengunjung dipatok 6.000 orang.

Strateginya jelas: B2B. Pembeli potensial bahkan disiapkan fasilitas hotel. Sebuah pendekatan yang menunjukkan keseriusan membangun transaksi, bukan sekadar pameran.

Pertanyaan soal daya tahan ekonomi pun muncul. Rupiah melemah. Biaya logistik naik. Mobilitas internasional tidak selalu murah.

Jawabannya realistis. “Pasti ada pengaruh. Tapi transaksi tetap berjalan,” kata Jamila.

Dato Chong menambahkan, tekanan juga terasa di sektor penerbangan. Mobilitas Malaysia–Indonesia–China menjadi lebih mahal. Namun itu tidak menghentikan arus bisnis.

Sebaliknya, justru mempertegas satu hal: hanya pasar kuat yang tetap menarik di tengah ketidakpastian.

Dan Indonesia, sejauh ini, masih masuk kategori itu.

Pameran ini digratiskan untuk pengunjung. Bahkan, ada insentif tambahan. Ada undian perjalanan ke Guangzhou pada akhir Oktober hingga awal November 2026 bagi peserta yang mendaftar.

Sebuah strategi kecil, tapi cukup untuk menarik perhatian.

Di atas semua itu, pesan utamanya sederhana: dunia industri sedang bergerak ke Indonesia.(*) 

 

 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.