Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan program revitalisasi satuan pendidikan di jenjang pendidikan SMK menyerap puluhan tenaga kerja yang mayoritas merupakan masyarakat sekitar sekolah sehingga berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi lokal.


Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus) Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan program revitalisasi satuan pendidikan termasuk di jenjang pendidikan SMK dilakukan melalui skema swakelola sehingga melibatkan pekerja lokal.


“Dalam satu proyek sekolah saja, tenaga kerja yang dilibatkan bisa mencapai 22 sampai 34 orang. Jadi, dampak ekonominya langsung terasa di daerah,” kata Tatang dalam kegiatan bertajuk Bincang Santai Dampak Nyata Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Penguatan Literasi melalui Sarana Perpustakaan yang Nyaman, di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Selasa.


Selain menyerap tenaga kerja lokal, kata dia, program revitalisasi satuan pendidikan juga menyerap berbagai material pembangunan yang dibeli dari wilayah sekitar sekolah.


Adapun terkait dengan tujuan revitalisasi pada jenjang pendidikan SMK, Tatang mengatakan revitalisasi SMK kini tidak lagi hanya berorientasi pada perbaikan bangunan sekolah.






Pihaknya juga berupaya untuk membangun sistem pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri dan pasar kerja.



“Revitalisasi pendidikan vokasi tidak hanya berbicara soal pembangunan fisik. Yang paling penting adalah bagaimana membangun ekosistem pendidikan yang mampu melahirkan lulusan adaptif dan multitasking,” ujar Tatang.


Ia menambahkan, keterbatasan ruang praktik masih menjadi persoalan utama di banyak SMK padahal model pembelajaran vokasi sangat menitikberatkan pada praktik langsung dan project-based learning.


Tatang menyebutkan sekitar 60 persen SMK di Indonesia sebelumnya mengalami kekurangan ruang praktik.






Akibatnya, kata dia, banyak sekolah harus menerapkan pembagian jam belajar hingga sore hari karena keterbatasan ruang kelas dan fasilitas praktik.


“Di sejumlah daerah, satu SMK negeri bisa menampung 2.000 hingga 3.000 siswa. Karena fasilitas terbatas, kegiatan belajar terpaksa dibagi sampai sore,” katanya.


Oleh karena itu, Kemendikdasmen saat ini memfokuskan revitalisasi pada pembangunan ruang praktik baru agar proses belajar lebih optimal.



Pihaknya juga berharap pembelajaran pada jenjang pendidikan SMK tidak lagi hanya berorientasi pada teori, namun juga menghasilkan karya atau produk nyata yang dapat dikembangkan.