TRIBUNBANYUMAS.COM, BATANG - Bocah berumur 2 tahun 5 bulan asal Desa Lebo, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dilarikan ke RSUD Batang akibat gizi buruk ekstrem disertai stunting.
Saat masuk rumah sakit, balita laki-laki itu hanya memiliki berat 6,2 kilogram.
Hasil pemeriksaan awal, balita itu mengalami kekurangan nutrisi kronis.
Dokter Spesialis Anak RSUD Batang, dr Tan Evi Susanti mengatakan, balita itu masuk ke rumah sakit pada Jumat, 8 Mei 2026.
"(Saat masuk) kulit perutnya keriput seperti jeruk layu. Anaknya sangat pucat dan lemas," kata dr Tan Evi, Selasa (12/5/2026).
Baca juga: Insiden Anak Terbakar di Batang saat Bermain Merpati, Ada Dugaan Bullying
Padahal, dari informasi keluarga, balita tersebut lahir dalam kondisi sehat dengan berat badan 4,2 kilogram.
Namun, pertumbuhan balita itu mulai mengalami penurunan drastis saat usia sekitar satu tahun.
"Tadinya masih bisa rambatan, sekarang hanya bisa miring-miring saja."
"Kondisi HB-nya juga sangat rendah, hanya sekitar 4," jelasnya.
Karena kesulitan makan dan minimnya asupan nutrisi, tim medis akhirnya memasang selang makan atau nasogastric tube (NGT) untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizi pasien.
"Minum susunya sedikit sekali. Kalau makan juga hanya ngemil sedikit, misalnya tahu goreng cuma dicuil tepungnya saja," ungkapnya.
Sementara, Direktur RSUD Batang, dr Any Rusydiani menyebut, kondisi pasien kini mulai menunjukkan perkembangan positif setelah menjalani penanganan intensif selama empat hari terakhir.
"Alhamdulillah sudah ada perbaikan. Berat badannya yang tadinya 6,2 kilogram, sekarang sudah 8,1 kilogram," ucap dr Any.
Selain kenaikan berat badan, kondisi fisik pasien juga membaik.
Bengkak pada tubuh berangsur berkurang, kadar albumin meningkat, serta hemoglobin (HB) yang sempat berada di angka sangat rendah kini naik hingga sekitar 12.
"Anaknya juga nafsu makannya sudah baik. Gizinya sudah mulai masuk," ucapnya.
Menurut Any, penanganan kasus gizi buruk memang memerlukan prosedur khusus dan tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
"Kalau gizi buruk itu ada pola penanganan khusus. Susunya khusus, cara pemberiannya juga khusus, termasuk dosis dan jadwalnya."
"Karena daya tampung lambung anak belum sempurna, jadi setiap tiga jam sekali harus diberikan asupan," jelasnya.
Baca juga: Pantai Jodo Batang Jadi Favorit Warga Habiskan Libur Akhir Pekan, Harga Tiket Hanya Rp5000 Per orang
Ia menambahkan, rumah sakit saat ini masih fokus pada pemulihan kondisi umum pasien sebelum melakukan pemeriksaan lanjutan terkait kemungkinan penyakit penyerta.
"Yang penting, kondisi umumnya stabil dulu."
"Kalau belum stabil, hasil pemeriksaan lain bisa rancu atau false positive dan false negative," terangnya.
Persoalan sosial dan ekonomi keluarga diduga menjadi faktor utama penyebab anak tersebut mengalami gizi buruk berat.
Balita tersebut diketahui merupakan anak dari keluarga yang mengalami perceraian.
Saat ini, ia diasuh nenek dari pihak ayah.
Sementara, sang ibu bekerja di Semarang dan sudah lama tidak menjumpai anaknya.
Sementara sang ayah, hanya bekerja serabutan.
Sedangkan kakek balita ini bekerja di luar kota.
Any menduga, kondisi tersebut membuat pola pengasuhan dan pemenuhan kebutuhan nutrisi anak menjadi tidak optimal.
Lebih memprihatinkan lagi, pemantauan kesehatan anak melalui layanan Posyandu terhenti sejak usia lima bulan.
Berdasarkan buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), saat terakhir mengikuti Posyandu, berat badan anak masih dalam kategori normal.
Setelah itu, balita tersebut nyaris tidak pernah lagi menjalani pemantauan tumbuh kembang secara rutin hingga akhirnya dirujuk ke rumah sakit dalam kondisi kritis.
Kasus tersebut kini menjadi perhatian serius Pemkab Batang. (*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.